Sabtu, 10 Mei 2014

Masalah (PJOK) Penjas - Mau dibawa kemana Penjas kita?

Mau Dibawa ke Mana Penjas Kita ?
Pendidikan Jasmani adalah proses pendidikan melalui aktivitas jasmani, permainan atau olahraga yang terpilih untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan  Pendidikan jasmani antara lain untuk; memenuhi kebutuhan anak akan gerak,  mengenalkan  anak pada lingkungan dan potensi dirinya, menanamkan dasar-dasar keterampilan yang berguna, menyalurkan energi yang berlebihan, dan merupakan proses pendidikan secara serempak baik fisik, mental maupun emosional.
Namun, pada kenyataanya, pendidikan jasmani di Negara kita ini tidak sesuai dengan kurikulum yang dipakai, sehingga timbulah krisis pendidikan jasmani. Penyebab terjadinya krisis pendidikan jasmani salah satunya adalah kesenjangan antara kurikulum pendidikan jasmani. Kasus lain yang menjadi penyebab kelemahan pendidikan jasmani adalah kualitas guru pendidikan jasmani yang rendah, tanpa pengetahuan atau  kompetensi, sehingga dipandang seorang guru pendidikan jasmani bukan sebagai keahlian profesional. Perekembangan pendidikan jasmani juga dipengaruhi oleh kebijakan pendidikan.
Krisis pendidikan jasmani ini bukan saja terjadi di Indonesia, melainkan terjadi juga di seluruh dunia.  Dari hasil survei Kent Hardman menunjukan bahwa pendidikan jasmani berada pada urutan terbawah dalam kurikulum. Selain itu, kurangnya alokasi waktu dalam kurikulum, kesenjangan antara kurikulum yang dikehendaki dan pelaksanaannya, kelangkaan sumber finansial, fasilitas dan peralatan, standar profesional guru pendidikan jasmani, serta isu kesetaraan gender.
Lebih lanjut, ada kritik bahwa  krisis  pendidikan jasmani dikarenakan pengajaran yang tidak membangkitkan keterjadian proses belajar, sehingga bidang studi itu tidak bermaknayang sebenarnta akarnya bukan karena kelangkaan infrastruktur atau biaya. Memang sulit untuk diamati secara langsung bahwa kegiatan yang diikuti oleh anak dalam pendidikan jasmani dapat meningkatkan kemampuan berpikir anak. Namun, walaupun demikian dapat ditegaskan di sini bahwa pendidikan jasmani yang efektif mampu merangsang kemampuan berpikir dan daya analisis anak ketika terlibat dalam kegiatan-kegiatan fisiknya. 
Pola-pola permainan yang memerlukan tugas-tugas tertentu akan menekankan pentingnya kemampuan nalar anak dalam hal membuat keputusan. Dalam hal olah rasa, pendidikan jasmani menempati posisi yang sungguh unik. Kegiatannya yang selalu melibatkan anak dalam kelompok kecil maupun besar merupakan wahana yang tepat untuk berkomunikasi dan bergaul dalam lingkup sosial.  Pendidikan jasmani menyediakan pengalaman nyata untuk melatih keterampilan mengendalikan diri, membina ketekunan dan motivasi diri. Hal ini diperkuat lagi jika proses pembelajaran direncanakan sebaik-baiknya. Melalui pendidikan jasmani kepercayaan diri dan citra diri anak akan berkembang.
Untuk selama bertahun tahun telah menjadi fenomena umum bahwa tidak ada kontribusi penting dari pendidikan jasmani baik pada pendidikan maupun pada perkembangan dan  pertumbuhan  individu siswa. Hal ini terjadi seiring dengan berkurangnya dukungan ekonomi pendidikan, lemahnya dukungan sarana dan prasarana pembelajaran, dan lemahnya profesionalisme guru pendidikan jasmani. Akibatnya, peran dan fungsi pendidikan jasmani semakin berada pada kualitas terendah. Masih ditemukan guru memberikan pengajaran sekedarnya, cukup siswa bergerak dan berkeringat sementara nilai-nilai pendidikan tidak ditanamkan, guru mengajar melalui sistem “remote control” murid belajar sementara guru mengawasi dari kejauhan. 
Semua itu, menyebakan pendidikan jasmani kehilangan makna kontekstual dengan kenyataan hidup siswa sehari-hari. Dari sudut pandang ini, peran, fungsi, dan posisi pendidikan jasmani semakin disudutkan. Lemahnya pengetahuan tentang peran penting aktivitas jasmani atau gerak (termasuk olahraga) pada para penentu kebijakan dan juga kurang gigihnya perjuangan penyandang profesi pendidikan jasmani dan olahraga  menyebabkan lemahnya peran dan kontribusi pendidikan jasmani dan olahraga pada semua aspek kehidupan manusia. Adakalanya yang menyebabkan lemahnya pendidikan jasmani adalah pendekatan guru dalam proses belajar mengajar.
Upaya untuk mengangkat citra pelajaran pendidikan jasmani di persekolahan salah satunya menuntut kreativitas guru untuk mempelajari berbagai pendekatan dan menerapkannya dalam pembelajaran, misalnya melibatkan dukungan profesional dari berbagai instansi terkait pendidikan jasmani dan olahraga, meningkatkan waktu aktif belajar pendidikan jasmani, serta mengembangkan metode pengajaran.

Dengan demikian, permasalahan “ mau dibawa ke mana pendidikan jasmani kita?” ini setidaknya dapat terjawab dan harus segera diaplikasikan oleh guru-guru Pendidikan Jasmani kita. Selain itu, buruknya kualitas prestasi olahraga Indonesia bukan hanya disebabkan oleh rendahnya kualitas program penjas di sekolah, tetapi lebih karena belum dimilikinya "budaya olahraga" secara umum.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar