Mau Dibawa ke Mana Penjas
Kita ?
Pendidikan Jasmani adalah proses pendidikan melalui aktivitas
jasmani, permainan atau olahraga yang terpilih untuk mencapai tujuan
pendidikan. Tujuan Pendidikan jasmani
antara lain untuk; memenuhi kebutuhan anak akan gerak, mengenalkan
anak pada lingkungan dan potensi dirinya, menanamkan dasar-dasar keterampilan
yang berguna, menyalurkan energi yang berlebihan, dan merupakan proses
pendidikan secara serempak baik fisik, mental maupun emosional.
Namun, pada kenyataanya, pendidikan jasmani di Negara kita ini
tidak sesuai dengan kurikulum yang dipakai, sehingga timbulah krisis pendidikan
jasmani. Penyebab terjadinya krisis pendidikan jasmani salah satunya adalah
kesenjangan antara kurikulum pendidikan jasmani. Kasus lain yang menjadi
penyebab kelemahan pendidikan jasmani adalah kualitas guru pendidikan jasmani
yang rendah, tanpa pengetahuan atau kompetensi, sehingga dipandang seorang guru
pendidikan jasmani bukan sebagai keahlian profesional. Perekembangan pendidikan
jasmani juga dipengaruhi oleh kebijakan pendidikan.
Krisis pendidikan jasmani ini bukan saja terjadi di Indonesia,
melainkan terjadi juga di seluruh dunia.
Dari hasil survei Kent Hardman menunjukan bahwa pendidikan jasmani
berada pada urutan terbawah dalam kurikulum. Selain itu, kurangnya alokasi
waktu dalam kurikulum, kesenjangan antara kurikulum yang dikehendaki dan
pelaksanaannya, kelangkaan sumber finansial, fasilitas dan peralatan, standar
profesional guru pendidikan jasmani, serta isu kesetaraan gender.
Lebih lanjut, ada kritik bahwa
krisis pendidikan jasmani dikarenakan
pengajaran yang tidak membangkitkan keterjadian proses belajar, sehingga bidang
studi itu tidak bermaknayang sebenarnta akarnya bukan karena kelangkaan
infrastruktur atau biaya. Memang sulit untuk diamati secara langsung bahwa
kegiatan yang diikuti oleh anak dalam pendidikan jasmani dapat meningkatkan
kemampuan berpikir anak. Namun, walaupun demikian dapat ditegaskan di sini
bahwa pendidikan jasmani yang efektif mampu merangsang kemampuan berpikir dan
daya analisis anak ketika terlibat dalam kegiatan-kegiatan fisiknya.
Pola-pola permainan yang memerlukan tugas-tugas tertentu akan
menekankan pentingnya kemampuan nalar anak dalam hal membuat keputusan. Dalam
hal olah rasa, pendidikan jasmani menempati posisi yang sungguh unik.
Kegiatannya yang selalu melibatkan anak dalam kelompok kecil maupun besar
merupakan wahana yang tepat untuk berkomunikasi dan bergaul dalam lingkup
sosial. Pendidikan jasmani menyediakan pengalaman
nyata untuk melatih keterampilan mengendalikan diri, membina ketekunan dan
motivasi diri. Hal ini diperkuat lagi jika proses pembelajaran direncanakan
sebaik-baiknya. Melalui pendidikan jasmani kepercayaan diri dan citra diri anak
akan berkembang.
Untuk selama bertahun tahun telah menjadi fenomena umum bahwa
tidak ada kontribusi penting dari pendidikan jasmani baik pada pendidikan
maupun pada perkembangan dan pertumbuhan individu siswa. Hal ini terjadi seiring
dengan berkurangnya dukungan ekonomi pendidikan, lemahnya dukungan sarana dan prasarana
pembelajaran, dan lemahnya profesionalisme guru pendidikan jasmani. Akibatnya,
peran dan fungsi pendidikan jasmani semakin berada pada kualitas terendah. Masih
ditemukan guru memberikan pengajaran sekedarnya, cukup siswa bergerak dan berkeringat
sementara nilai-nilai pendidikan tidak ditanamkan, guru mengajar melalui sistem
“remote control” murid belajar
sementara guru mengawasi dari kejauhan.
Semua itu, menyebakan pendidikan jasmani kehilangan makna
kontekstual dengan kenyataan hidup siswa sehari-hari. Dari sudut pandang ini, peran,
fungsi, dan posisi pendidikan jasmani semakin disudutkan. Lemahnya pengetahuan
tentang peran penting aktivitas jasmani atau gerak (termasuk olahraga) pada
para penentu kebijakan dan juga kurang gigihnya perjuangan penyandang profesi
pendidikan jasmani dan olahraga menyebabkan
lemahnya peran dan kontribusi pendidikan jasmani dan olahraga pada semua aspek
kehidupan manusia. Adakalanya yang menyebabkan lemahnya pendidikan jasmani
adalah pendekatan guru dalam proses belajar mengajar.
Upaya untuk mengangkat citra pelajaran pendidikan jasmani di
persekolahan salah satunya menuntut kreativitas guru untuk mempelajari berbagai
pendekatan dan menerapkannya dalam pembelajaran, misalnya melibatkan dukungan
profesional dari berbagai instansi terkait pendidikan jasmani dan olahraga, meningkatkan
waktu aktif belajar pendidikan jasmani, serta mengembangkan metode pengajaran.
Dengan demikian, permasalahan “ mau dibawa ke mana pendidikan
jasmani kita?” ini setidaknya dapat terjawab dan harus segera diaplikasikan
oleh guru-guru Pendidikan Jasmani kita. Selain itu, buruknya kualitas prestasi
olahraga Indonesia bukan hanya disebabkan oleh rendahnya kualitas program
penjas di sekolah, tetapi lebih karena belum dimilikinya "budaya
olahraga" secara umum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar