Senin, 21 April 2014

SISTEM TERAPI ZONA

BEDAH BUKU PIJAT SISTEM TERAPI ZONA
KARYA GATOT MARGONO
Oleh: Agung Ginanjar

BAB I
PENDAHULUAN

Buku PIJAT Sistem Terapi Zona adalah suatu buku yang unik. Karena buku ini merupakan suatu buku yang didalamnya terdapat sistem pengobatan untuk berbagai macam penyakit. Biasanya suatu sistem pijat digunakan untuk menyembuhkan atau meredakan penyakit luar misalnya nyeri sendi, nyeri pundak dan sebagainya , selain dari itu dibuku ini penyakit-penyakit dalam yang bisa dibilang susah disembuhkan dengan dipijat sistem pijat zona dapat disembuhkan. Pengaruh buku ini terhadap orang yang membacanya bisa dibilang sangat baik. Dari seorang awam yang tidak tahu apapun mengenai perpijatan bisa belajar ‘otodidak” dari buku ini.
Di masa sekarang pengobatan modern yang terkenal maju dan canggih tetap tidak bisa menggeser dan menghapus pengobatan tradisional. Disetiap berbagai penjuru khususnya di Indonesia tukang pijat selalu dikunjungi pasien. Kenapa? Karena menurut survai pijat tradisional ini lebih dipercaya kegunaannya , khususnya di wilayah perkampungan. Karena dari para narasumber yang saya tanyakan pijat tradisional atau sistem terapi zona ini dinilai aman dan tidak ada yang harus di makan dan operasi. Maka untuk meningkatkan pengetahuan pijat di kalangan awam buku ini sangat cocok untuk dibaca.
Sebenarnya secara umum “Terapi Zona” ini ialah suatu metode pijat berdasarkan pembagian zona (daerah atau wilayah dalam tubuh) yang dipergunakan untuk merawat atau mengobati anggota tubuh yang sakit. Dalam buku ini dijelaskan bahwa “terapi zona ini bukan istilah yang baru, tetapi yang sudah sangat tua, terapi ini lahir di Tiongkok sejak 6000 tahun yang lalu. Awalnya dari orang cina yang menemukan bahwa bila ada kelainan-kelainan tertentu dalam tubuh itu terdapat titik-titik yang akan terasa nyeri” mereka berkesimpulan bahwa antara kelainan-kelainan dan titik-titik itu ada suatu hubungan .
BAB II
PEMBAHASAN

Didalam buku ini dijelaskan bahwa “Terapi Zona ialah suatu metoda pijat berdasarkan pembagian zona dalam tubuh yang dipergunakan untuk merawat atau mengobati anggota tubuh yang sakit.” Untuk itu Gatot menerangkan bahwa Pijat ini diarahkan pada zona-zona tertentu yang terdapat titik-titik ‘nyeri tekan’.
Dari materi yang di jelaskan dalam buku ini Pijat secara global dibagi menjadi 2 macam, yaitu Pijat secara Umum dan Pijat secara Khusus.Pijat secara umum ini sentuhan/perabaannya secara menyeluruh dan pelaksanaannya ada bermacam-macam misalnya ada yang dimulai dari tangan naik ke kepala, ada yang dimulai dari telapak kaki, ada yang dimulai dari kepala turun ke punggung dan ada juga yang dimulai dari perut ke dada. Juga cara memijatnya ada beberapa macam sesuai dengan tujuannya, misal nya gosokan, pijatan,goncangan, pukulan, gerusan, dan mengurut. Yang selanjutnya ialah Pijat secara Khusus . Pijat ini dibagi 2 lagi yaitu Pijat sistem terapi zona dan Pijat Sistem Tusuk Jari. Pijat Sistem Terapi Zona yaitu Memijat pada reflek-reflek yang berada di telapak kaki pada umumnyaa dan bagian-bagian tubuh lainnya. Bisa menggunakan alat atau hanya dengan tangan kosong. Selanjutnya Pijat Sistem Tusuk Jari yaitu Memijat dengan tusukan jari pada titik meredien atau sama dengan tusuk jarum. Hanya tusuk jari tanpa menggunakan jarum.
Gatot dalam bukunya ini menjelaskan bahwa pijat sistem terapi zona dilakukan pada suatu tempat tertentu dan untuk jangka waktu tertentu pula.Tempat tertentu itu dinamakan zona respon/daerah respon. Daerah respon atau titik refleksi ini terdapat di seluruh badan, namun yang paling banyak di telapak kaki dan telapak tangan. Daerah-daerah ini akan menjadi peka bila ada kelainan dalam tubuh. Jangka waktu pijat untuk tiap zona (titik refleksi) biasanya 5 – 9 menit dan ini dilakukan berselang 1 – 3 hari sekali, sampai rasa sakit pada daerah-daerah respon berkurang. Pada waktu rasa sakit berkurang, keadaan badan mulai pulih. Untuk memperoleh hasil yang efektif tekanan pada daerah-daerah tersebut harus cukup kuat hingga benar-benar terasa sakit.

Teknik Dasar Pijat Sistem Terapi Zona.
Ada 3 teknik yang perlu dikuasai oleh pemijat yang bersangkutan;
  1. Teknik Genggaman
-          Disini bisa teknik genggaman tekan satu jari (cocok untuk memijat zona-zona di telapak tangan/kaki dengan ibu jari/jari telunjuk)
-          Teknik genggaman tekan jari banyak.
Teknik ini menggunakan ujung-ujung ke empat jari untuk pijatan, kecuali ibu jari. Digunakan untuk menutup suatu daerah yang cukup luas baik pada kaki maupun pada tangan.
-          Teknik genggaman jepitan.
Sangat cocok untuk memberikan tekanan pada daerah yang lebar pada tangan atau kaki. Ujung ibu jari dan ujung telunjuk pemijat adalah bagian penjepitnya.
-          Teknik genggaman langsung.
Titik tekan dipusatkan pada ibu jari tangan pemijat. Cara ini sangat cocok untuk memijat telapak kaki yang memerlukan tekanan prima. Bisa digunakan dengan tekanan yang di putar-putar atau tekan kuat kendor secara berirama.
  1. Teknik Putaran
    Teknik putaran ini pelaksanaannya hampir sama dengan teknik yang telah dijelaskan di atas (teknik genggaman), hanya saja pada pelaksanaannya khusus dibuat dengan gerakan putaran.Teknik putran bisa dilakukan dengan satu jari atau lebih.
  2. Teknik Ibu jari dan jari berjalan
    Untuk memberikan suatu tekanan yang tetap selagi mengurut permukaan tangan atau kaki. Permainan antara jari dan ibu jari memberikan kemampuan untuk menelusuri sekaligus memberi tekanan pada permukaan yang berbeda-beda.



Cara menemukan zona-zona respons
Tubuh manusia pada setiap sisi (kiri dan kanan) dibagi 5 zona.
  1. Zona –1 terbujur dari ujung ibu jari tangan, lurus naik ke puncak kepala, lalu turun melalui hidung, melalui pusat tubuh ke ibu jari kaki.
    Dalam zona ini termasuk saluran hidung, langit-langit, perut, tenggorokan, tulang belakang, rahim, alat-alat kelamin, dubur, jantung dan macam-macam kelenjar.
  2. Zona – 2 terbujur dari jari telunjuk naik ke kepala, turun ke jari kaki  yang kedua. Daerah ini meliputi mata, sinus-sinus (anak rongga hidung), berbagai kelenjar, paru-paru, bronchi, amandel, perut, jantung dan pankreas.
  3. Zona – 3 terbujur dari jari tengah tangan ke kepala,turun ke jari tengah kaki. Zona ini meliputi mata, beberapa kelenjar,paru-paru, ginjal, perut lambung, appendix, hati dan kandung empedu.
  4. Zona – 4 dimulai dari ujung jari manis, naik ke kepala, turun ke jari kaki yang ke empat. Meliputi appendix, hati, ileocecal valve(katup batas usus kecil dan usus besar), sedang pada sisi kiri bahu, telinga, paru-paru dan limpa.
  5. Zona – 5 membujur dari kelingking tangan ke kepala, turun ke jari kelingking kaki. Dalam zona ini termasuk hati, telinga dan tengkuk.

Bila kita baca dengan teliti tentang buku ini, ada sebuah stetment yang bisa menjatuhkan buku ini. Disana ada statement seperti ini “Sebenarnya seseorang yang berjalan tanpa alas kaki termasuk sudah menerapkan pijat secara alamiah.” Sebenarnya dari keseluruhan di buku ini saya lihat buku ini hanya menekankan pada daerah pijatan mana yang dapat kita pijit supaya penyakitnya hilang (kebanyaan daerah kaki dan tangan) , nah dari statement tadi khususnya kaki apabila dikatakan berjalan tanpa ala kaki sudah termasuk ada pijatan, maka orang-orang akan berfikir bahwa cukup saja berjalan diatas terapi batu kali yang di semen dan kita hanya cukup berjalan saja tanpa harus susah-susah ke tukang pijat.




BAB III
KESIMPULAN
Secara umum Gatot disini lebih mengutamakan gambar sebagai  pembantu cara belajar yang terdapat dalam buku ini.menurut pengamatan kami gatot bertujuan untuk mempermudah kita agar dapat lebih teliti dalam menangkap penjelasan yang mungkin aka berakibat fatal bagi kita bila melakukan hal yang salah.
Hal yang menjadi point penting yang bisa kita ambil , gatot mencantumkan contoh-contoh kasus dalam buku ini. Ini sebagai penjelas sebuah fakta bahwasanya buku ini bukan hanya sekedar buku karangan , tetapi buku ini juga diperkuat oleh kasus-kasus tersebut. Mungkin kami akan beritahukan seperti kasus tekanan darah tinggi . dalam kasus itu gatot mencertakan bahwa dia menyembuhkan menyembukan penderita darah tnggi dalam kurung waktu 4 minggu , perminggu sebelum minggu ke empat dia katakana ada perubahan demi perubahan kea rah yang baik rai pasien.
Mungkin sebagian besar orang akan merasa ini dipermudah oleh gambar-bersangkutan tapi sisi negativenya akan terlalu banyak gambar apabila semuanya di cantumkan seperti itu. Sedangkan isi bacaan yang sewajarnya lebih banyak dari pada gambar terkesan kalah oleh jumlah gambar yang begitu banyak. Seharusnya menurut kami Gatot lebih bisa melihat dan mempertimbangkan penyakit-penyait mana saa yang mungkin bisa dimasukan terhadap buku ini.
Dari penjelasan yang terdapat dalam buku ini dapat kami simpulkan bahwa gatot dalam buku ini berhasil menempatkan bahasa yang mudah dimengerti oleh pembaca. Karena bahasa yang ditampilakan oleh gatot lebih universal dan tidak terlalu bersifat latin/keilmuan.
Untuk tampilan dari buku ini sendiri saya rasa akan ada berbaga pendapat. Ukuran buku ini yang minim akan berimbas pada pada sudut pandang mana orang bisa merasa nyaman saat membacanya. Dari covernya buku ini sangat menarik, karena sangat mewakili hal-hal apasaja yang ada dalam isi buku ini. Buku ini berukuran 14 x 10 cm, artinya buku ini sangat minim. Orang akan berpendaat bahwa buku ini enak dibawa dan efesien dalam pembuatannya. Tetapi orang lain akan merasa kesusahan saat membacanya karena melihat dari ukuran fontnya yang menyesuaikan dengan ukuran bukunya sendiri.
Dan yang paling kami sesalkan dari buku ini adalah tahun pebuatan buku ini yang tidak saa sekali ditulis oleh Penerbit. Buku ini menjadi tidak jelas saat ditanya tahun penerbitannya. CV Karya utama sangat besar tanggung jawabnya dalam kesalahan ini.


Rabu, 05 Februari 2014

Menumbuhkembangkan Sisi Kesastraan Mahasiswa yang Berkecimpung di Bidang Olaraga


    Minggu ini Saya sedang disibukan dengan program kerja dari divisi penelitian dan pengembangan Himpunan PJKR. Program kerja yang akan saya hadapi ialah Lamp-Week. Lamp-Week sendiri ialah program kerja yang didalamnya berupa beragai perlombaan, diantaranya Design Background Mading, Film Dokumenter, Fotografi, dan menulis Esai. Program kerja ini sendiri berkesinambungan dengan tujuan dari divisi peneitian dan pengembangan, yaitu guna membuat mahasiswa yang berkecimpung dibidang olahraga khususya mahasiswa FPOK UPI lebih bisa menonjolkan sisi kesastraannya. kenapa demikian? karena seperti yang kita tahu, mahasiswa yang berkecimpung dibidang olahraga cenderung lebih menonjolkan prestasi prestasi dari sisi psikomotornya saja. Namun jika kita pikir kembali masih banyak kajian yang berhubungan dengan olahraga itu sendiri yang bisa mereka teliti dan harusnya kemudian dibukukan.

     Hal inilah yang oleh Kami (Divisi Penelitian dan Pengembangan Himpunan mahasiswa PJKR) akan coba kembangkan kembali dengan cara memberikan pencerahan-pencerahan kepada mahasiswa yang berkecimpung di bidang olahraga. bahwasanya seperti yang saya katakan tadi, masih banyak kajian kajian keilmuan olahraga yang belum digali secara mendalam, dan itu harusnya dilakukan oleh mahasiswa yang berhubungan dengan olahraga.

    Dengan adanya program kerja seperti Lamp-Week yang kami (Divisi Penelitian dan Pengembangan Himpunan Mahasiswa PJKR FPOK UPI) buat ini, kami harapkan agar mahasiswa keolahragaan di seluruh Indonesia umumnya lebih bisa tergali motivasinya untuk membuat suatu karya-karya yang berkualitas khususnya karya tulis. Kami percaya dengan memahami secara mendalam ilmu-ilmu keolahragaan yang mereka jalani, mereka akan lebih bisa meningkatkan kualitas aktivitas olahraga mereka sendiri, bahkan jika tercipta kebudayaan yang kami harapkan tidak menutup kemungkinan ini akan berdampak positive pada sistem keolahragaan nasional di Indonesia.

    Berikut Contoh deskripsi lomba-lomba dalam Lamp-Week. (jangan dilihat dari nilainya, tetapi perlu kita pikirkan bahwa dari hal/kegiatan kecil kita bisa membuat dampak yang besar)



LAMP-Week
6 – 20 Februari 2013
1.    Lomba Design Background Mading
-       Tema : “PJKR Kebanggaanku”
-       Format dalam bentuk Corel
-       Mencantumkan Biodata
-       Deskripsi Design mading
-       Hasil dikirim lewat email litbang_pjkr@yahoo.com



2.    Lomba  Film Dokumenter
-       Tema : “Olahraga kesehatan”
-       Durasi 10 menit (termasuk deskripsi + Nama Kelas
-       Format .mp4 / .flv
-       Hasil diserahkan langsung dalam 1 CD.



3.    Lomba  Fotografi
-       Tema : “FPOK Itu ……” (tentang FPOK)
-       Format JPEG/PNG
-       Deskripsi dalam bentuk Notepad/Ms. Word
-       Mencantumkan Biodata  Lengkap
-       Hasil diserahkan langsung dalam 1 CD (1 folder terdiri dari foto + deskripsi )



4.    Lomba  Menulis Esai
-     Tema : “Aku dan gerak PJKR”
-     2 halaman (pas)
-     Mencantumkan Biodata  Lengkap
-     Format A4 / 1,5 spasi / Times new roman / Font 12 / margin 4, 4, 3, 3.

-     Hasil dikirim lewat email litbang_pjkr@yahoo.com

Rabu, 29 Januari 2014

Perkembangan Motorik


Perkembangan Motorik

   Pengertian = Perkembangan dari gerakan kemampuan motorik  sejak lahir hingga meninggal.
Kemampuan motorik melibatkan bagian bagian tubuh dan fungsi tubuh.

Menurut Galahue perkembangan motorik ada beberapa fase, yaitu :
Life Span (Rentang Hidup)
-Fase gerak refleks (1tahun)
-Fase gerak rudimenter (1-2tahun)
-Fase gerak pundamental (4-6tahun)
-Fase gerak spesialisasi (7-11tahun)

Macam-macam gerakan pada manusia :
-Nonlokomotor (Bergerak-gerak tanpa berpindah tempat)
-Lokomotor (Bergerak-gerak dengan berpindah tempat)
-Manipulatif (Gerakan yang berhubungan dengan benda lain)

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan motorik
-Faktor Hereditas
-Faktor Lingkugan

Perbedaan Penjas dan Olahraga dalam ruang lingkup perkembangan motorik (pada tahun 1970)
Penjas ------> Learning -------> Quality of Life
Olahraga -------> Training -------> Prestasi



Definisi Olahraga dan Pendidikan Jasmani menurut beberapa ahli


1 Dalam entri ini saya akan membahas mengenai berbagai pengertian olahraga dan penjas menurut beberapa ahli. hal ini dilatarbelakangi untuk mengubah pandangan masyarakat yang pada kenyataanya masih menganggap penjas yang diberikan disekolah itu seperti layaknya  olahraga yang dilakukan dimasyarakat.

Definisi Olahraga dan Pendidikan Jasmani

Definisi Olahraga 
Tim Guru Eduka: Olahraga adalah suatu kegiatan yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh kita.

2Soekarno: Olahraga adalah alat untuk melaksanakan tiga tujuan revolusi Indonesia, yaiut: Negara Kesatuan RI yang kuat, masyarakat adil dan makmur, dan tata dunia baru. Dengan kata lain, Olahraga adalah alat untuk melaksanakan ampera (amanat penderitaan rakyat).

3Suryanto Sukmono, S. Si: Olahraga adalah suatu kegiatan untuk melatih tubuh kita agar badan terasa sehat dan kuat, baik secara jasmani maupun rohani.

4Seno Gumira Ajidarma: Olahraga adalah sarana kompetisi untuk menjadi nomer satu.

5Jessica Dolland: Olahraga adalah pereda stress yang sangat baik. Olahraga dapat mengalihkan pikiran dari kekhawatiran dengan cara meredakan ketegangan otot tubuh.

6Kathryn Marsden: Olahraga adalah pengusir stress terbaik yang pernah ditemukan.

7Chatles C. Manz: Olahraga adalah sesuatu yang harus menjadi prioritas dan dijadwalkan tapi tetap realistis.

8Hans Tandra: Olahraga adalah gerakan tubuh yang berirama dan teratur untuk memperbaiki dan meningkatkan kebugaran.

9Sheta Datrgazelli: Olahraga adalah minyak yang membuat gerakan tubuh bergerak secara fleksibel dan mudah. 

1Wikipedia:Olahraga adalah aktivitas untuk melatih tubuh seseorang, tidak hanya secara jasmani tetapi juga secara rohani.

  Kesimpulan: Olahraga adalah aktivitas yang bisabertujuan untuk merlatih tubuh seseorang baik secara jasmani maupun rohani, hiburan, meraih prestasi, dsb.


 Definisi Pendidikan Jasmani

1Abdul Gafur: Pendidikan Jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani untuk memperoleh pertumbuhan jasmani, kesehatan dan kesegaran jasmani, kemampuan dan keterampilan, kecerdasan dan perkembangan watak serta kepribadian yang harmonis dalam rangka pembentukan manusia Indonesia berkualitas berdasarkan Pancasila.

2Cholik Mutohir: Pendidikan Jasmani adalah adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/pertandingan, dan kegiatan jasmani yang intensif untuk memperoleh rekreasi, kemenangan, dan prestasi puncak dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan Pancasila.

3Nixon and Cozens: Pendidikan Jasmani didefinisikan sebagai fase dari seluruh proses pendidikan yang berhubungan dengan aktivitas dan respons otot yang giat dan berkaitan dengan perubahan yang dihasilkan individu dari respons tersebut.

4Dauer dan Pangrazi: Pendidikan Jasmani adalah fase dari program pendidikan keseluruhan yang memberikan kontribusi, terutama melalui pengalaman gerak, untuk pertumbuhan dan perkembangan secara utuh untuk tiap anak. Pendidikan jasmani didefinisikan sebagai pendidikan dan melalui gerak dan harus dilaksanakan dengan cara-cara yang tepat agar memiliki makna bagi anak. Pendidikan jasmani merupakan program pembelajaran yang memberikan perhatian yang proporsional dan memadai pada domain-domain pembelajaran, yaitu psikomotor, kognitif, dan afektif.

5Bucher: Pendidikan Jasmani merupakan bagian integral dari suatu proses pendidikan secara keseluruhan, adalah proses pendidikan melalui kegiatan fisik yang dipilih untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan organik, neuromuskuler, interperatif, sosial, dan emosional

6Ateng: Pendidikan Jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan melalui berbagai kegiatan jasmani yang bertujuan mengembangkan secara organik, neuromuskuler, intelektual dan emosional.

7Barrow: Pendidikan Jasmani sebagai pendidikan melalui aktivitas gerak manusia dimana banyak dari tujuan pendidikan yang dicapai melalui kegiatan otot besar yang melibatkan olahraga, permainan, senam, tari dan latihan.

8Jackson R. Sharman: Pendidikan Jasmani adalah bagian daripendidikan yang berlangsung melalui kegiatan yang melibatkan mekanisme motorik tubuh manusia yang menghasilkan pola perilaku individu.

 Central Advisory Board of physical Education and Recreation: Pendidikan Jasmani adalah pendidikan melalui aktivitas fisik untuk pengembangan totalkepribadian anak untuk keutuhan dan kesempurnaan tubuh, pikiran dan jiwa.

  Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP): Pendidikan Jasmani adalah suatu proses pendidikan melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi. Lingkungan belajar diatur secara seksama untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah, jasmani, psikomotorik, kognitif, dan afektif setiap siswa.

Kesimpulan: Pendidikan jasmani adalah proses pendidikan melalui akivitas jasmani yang di dalamnya terdapat banyak makna kehidupan untuk memperoleh kebugaran tubuh dan menjunjung tinggi sportifitas.


Senin, 25 November 2013

Masa Adolesen

perkembangan motorik anak remaja

Masa Adolesen 


Perkembangan Motorik 
- Laki-laki : Lebih Dominan kepada Kecepatan, Kekuatan, Keberanian.
- Perempuan : Gerakannya feminim, dan hal yang ditonjolkan biasaya kecekatan.

Kemampuan Kondisional
- Baik perempuan maupun laki-laki kemampuan kondisionalnya bergantung pada frekuensi latihan , fleksibilitas, dan daya tahan.

Kemampuan Kordinasi 
-Laki-laki  : Kordinasi lebih dominan berjalan baik, cepat. dan berirama.
-Peremuan : kemampuan kordinasinya berjalan lambat, (karena dipengaruhi oleh bertambahnya hormon yang tidak seimbang saat manstrurasi)

Aplikasi dalam belajar & berlatih 
*Tujuan latihan
*Beban latihan : jangan sampai over load sistem, more load.
*Frekuensi latihan : 3x / minggu , 5x / minggu.
*Metode latihan : pengabungan latihan yang bersifat majemuk, paralel, (misal : latihan kekuatan disatukan dengan latihan 

Sabtu, 16 November 2013

VO2 Max

VO2 max

Dalam olahraga istilah VO2Max tentu bukanlah asing. Apa VO2Max itu? Kenapa atlet apabila di test VO2Max begitu takut untuk melakukan dan mengetahui hasilnya?. VO2 max adalah volume maksimal O2 yang diproses oleh tubuh manusia pada saat melakukan kegiatan yang intensif. Volume O2 max ini adalah suatu tingkatan kemampuan tubuh yang dinyatakan dalam liter per menit atau milliliter/menit/kg berat badan.

Kita perlu ketahui juga faal dari tubuh manusia. Setiap sel membutuhkan oksigen untuk mengubah energi makanan menjadi ATP (Adenosine Triphosphate) yang siap pakai untuk kerja tiap sel yang paling sedikit mengkonsumsi oksigen adalah otot dalam keadaan istrahat. Sel otot yang berkontraksi membutuhkan banyak ATP. Akibatnya otot yang dipakai dalam latihan membutuhkan lebih banyak oksigen. Sel otot membutuhkan banyak oksigen dan menghasilkan CO2. Kebutuhan akan Oksigen dan menghasilkan CO2 dapat diukur melalui pernafasan kita.

Dengan mengukur jumlah oksigen yang dipakai selama latihan, kita mengetahui jumlah oksigen yang dipakai oleh otot yang bekerja. Makin tinggi jumlah otot yang dipakai maka makin tinggi pula intensitas kerja otot.

Tingkat Kebugaran dapat diukur dari volume Anda dalam mengkonsumsi oksigen saat latihan pada volume dan kapasitas maksimum. Kelelahan atlet yang dirasakan akan menyebabkan turunnya konsentrasi sehingga tanpa konsentrasi yang prima terhadap suatu permainan, sudah hampir dipastikan kegagalan yang akan diterima.

Cepat atau lambatnya kelelahan oleh seorang atlet dapat diperkirakan dari kapasitas aerobik atlet yang kurang baik. Kapasitas aerobik menunjukkan kapasitas maksimal oksigen yang dipergunakan oleh tubuh (VO2Max). Dan seperti kita tahu, oksigen merupakan bahan bakar tubuh kita. Oksigen dibutuhkan oleh otot dalam melakukan setiap aktivitas berat maupun ringan.

Dan semakin banyak oksigen yang diasup/diserap oleh tubuh menunjukkan semakin baik kinerja otot dalam bekerja sehingga zat sisa-sisa yang menyebabkan kelelahan jumlahnya akan semakin sedikit. VO2Max diukur dalam banyaknya oksigen dalam liter per menit (l/min) atau banyaknya oksigen dalam mililiter per berat badan dalam kilogram per menit (ml/kg/min). Tentu, semakin tinggi VO2 max, seorang atlet yang bersangkutan juga akan memiliki daya tahan dan stamina yang istimewa.
Sekalipun memiliki stamina yang istimewa, atlet tetap harus memiliki penguasaan teknik cabangnya dengan baik. Sebab, dengan teknik yang baik, sang atlet akan efisien dalam bertarung. Artinya, sekalipun lawannya memiliki stamina yang istimewa, tetapi teknik pas-pasan, atlet kita yang bakal menang.



Bagaimana mengukur VO2 max ?
Sebagai pertimbangan dalam mengukur VO2 max adalah tes harus diciptakan demikian rupa sehingga tekanan pada pasokan oksigen ke otot jantung harus berlangsung maksimal. Kegiatan fisik yang memenuhi criteria ini harus:
1. melibatkan minimal 50 % dari total masa otot. Aktivitas yang memenuhi criteria ini adalah lari, bersepeda, mendayung. Cara yang paling umum dilakukan dengan lari di Treadmill, yang bisa diatur kecepatan dari sudut inklinasinya
2. Lamanya tes harus menjamin terjadinya kerja jantung maksimal. Umumnya berlangsung 6 sampai 12 menit.
Salah satu alat ukur VO2Max adalah metode Cooper Test, metode ini cukup sederhana, tanpa biaya yang mahal dan akurasinya cukup wajar. Yakni atlet melakukan lari/jalan selama 12 menit pada lintasan lari sepanjang 400 meter. Setelah waktu habis jarak yang dicapai oleh atlet tersebut dicatat.
Rumus sederhana untuk mengetahui VO2Maxnya adalah : Jarak yang ditempuh dalam meter – 504.9) / 44.73.
Contoh : Budi melaksanakan Cooper Test dengan lari selama 12 menit, jarak yang dicapai (2600 meter – 504.9) dibagi 44.73 = 46.83881 mls/kg/min

Mahasiswa Purnomo belajar untuk meningkatkan kebugaran fisik dengan diukur secara obyektif menggunakan VO2 Max.

CARA MENINGKATKAN VO2 MAX



Selain berdasarkan genetika, kemampuan memiliki level VO2 max yang tinggi juga didasarkan dari program latihan yang diterapkan. Program latihan terbaik yang mampu memaksimalkan level VO2 max adalah yang latihan yang intensitasnya mampu menghasilkan VO2 max, atau dengan kata lain, latihan yang membuat Anda mampu bernafas sekuat mungkin.
Tidak ada angka intensitas tertentu yang mampu menghasilkan VO2 max, yang ada adalah tingkatan intensitas tertentu karena konsumsi oksigen bersifat terus naik saat melakukan aktivitas berintensitas berapapun tingginya. Karena itu pula, ada beberapa cara untuk mencapai VO2 max 100 % dalam latihan.

Salah satu cara termudah menghasilkan VO2 max Anda adalah berlari secepat dan sekuat mungkin yang Anda mampu selama 6 menit. Jadi Anda bisa melakukan latihan VO2 max yang terdiri atas pemanasan 10 menit, berlari secepat mungkin selama 6 menit, dan pendinginan selama 10 menit.
Namun cara tersebut bukanlah latihan terbaik untuk mencapai VO2 max karena setelah menit keenam, Anda akan merasa sangat lelah. Yang lebih dianjurkan adalah melakukan beberapa jenis latihan lain berdurasi lebih pendek yang berintensitas sama atau lebih tinggi yang terbagi atas beberapa periode pemulihan. Cara ini akan membuat seorang atlet mencapai level VO2 max 100 % sebelum merasa lelah. Cara yang lainnya adalah dengan cara sedikit mengulang intensitasnya kembali dan melakukan beberapa interval yang lebih lama.

Contoh Program Latihan VO2 max
  • Interval 30/30 dan 60/60
    Kita mulai dengan interval 30/30. Setelah pemanasan dengan jogging minimal selama 10 menit, berlarilah sekuat mungkin selama 30 detik (dengan perkiraan mampu Anda lakukan selama 6 menit), lalu kembali jogging selama 30 detik. Lakukan berulang-ulang bergantian sampai jumlah masing-masing adalah 12. Tingkatkan jumlahnya masing-masing sampai maksimal 20 kali. Jika sudah, lakukan cara yang sama dengan metode interval 60/60. Lakukan metode interval 60/60 dengan jumlah masing-masing minimal sebanyak 6 kali dan maksimal sebanyak 10 kali.

  • Interval Jalur Menanjak
    Pilihlah jalur yang menanjak. Lakukan pemanasan dengan jogging minimal selama 10 menit, lalu berlarilah sekuat tenaga di jalur menanjak selama 2-3 menit (tentukan dulu sebelum mulai), lalu kembali jogging selama 10 menit, dan ulangi lagi tahapannya. Pilihlah sebanyak 4 kali untuk cara 2 menit atau 3 kali untuk cara 3 menit. Untuk tahapan mahir, Anda bisa melakukan sebanyak 10 kali 2 menit atau 7 kali 3 menit. Sebaiknya pilihlah kecepatan berlari yang cukup menantang Anda lakukan. Jangan sampai Anda tidak mampu melakukan sebelum menyelesaikan metodenya, atau jangan sampai pula Anda merasa masih mampu melakukannya lagi ketika sudah menyelesaikan.
  • Interval Laktat
    Metode ini adalah latihan VO2 max yang terberat. Pastikan Anda sudah benar-benar menjalankan dan menguasai metode interval 30/30, 60/60, dan jalur menanjak sebelum mulai melakukan metode interval laktat ini. Lakukan metode interval laktat di jalur/trek khusus berlari. Lakukan pemanasan dengan jogging minimal selama 10 menit, lalu berlarilah dengan jarak 800-1200 meter mengelilingi trek, lalu kembali jogging sejauh 400 meter.
    Pilihlah jarak interval 800 meter terlebih dahulu sebelum meningkat menjadi interval 1200 meter hingga total jaraknya adalah 5000 meter atau 5 km. Jadi urutannya dari jarak yang paling pendek adalah misalnya 6-7 x 800 meter, lalu 5 x 1000 meter, dan 4 x 1200 meter. Sekali lagi ingatlah, pilihlah kecepatan berlari yang cukup menantang Anda lakukan tanpa harus melambat.
Latihan untuk memaksimalkan VO2 max memang berat sehingga banyak atlet yang tidak mau melakukannya. Namun, Anda bukan seorang atlet kebanyakan seperti itu bukan? Anda ingin menjadi yang terbaik bukan? Rasakanlah manfaat meningkatkan kemampuan Anda dan buatlah komitmen untuk melakukan latihan VO2 max. Maka Anda akan merasakan manfaatnya yang luar biasa.

Minggu, 10 November 2013

Pendidikan Kesehatan

PENDIDIKAN KESEHATAN MASYARAKAT

PENDIDIKAN KESEHATAN MASYARAKAT


A. Prinsip pendidikan kesehatan
1. Pendidikan kesehatan bukan hanya pelajaran di kelas, tetapimerupakan kumpulan pengalaman dimana saja dan kapan saja sepanjang dapat mempengaruhi pengetahuan sikap dan kebiasaan sasaran pendidikan.
2. Pendidikan kesehatan tidak dapat secara mudah diberikan oleh seseorang kepada orang lain, karena pada akhirnya sasaran pendidikan itu sendiri yang dapat mengubah kebiasaan dan tingkah lakunya sendiri.
3. Bahwa yang harus dilakukan oleh pendidik adalah menciptakan sasaran agar individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dapat mengubah sikap dan tingkah lakunya sendiri.
4. Pendidikan kesehatan dikatakan berhasil bila sasaranpendidikan (individu, keluarga, kelompok dan masyarakat)sudah mengubah sikap dan tingkah lakunya sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
B. Ruang lingkup pendidikan kesehatan masyarakat
Ruang lingkup pendidikan kesehatan masyarakat dapat dilihat dari 3 dimensi :
1. Dimensi sasaran
a. Pendidikan kesehatan individu dengan sasaran individu
b. Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok masyarakat tertentu.
c. Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat luas.
2. Dimensi tempat pelaksanaan
a. Pendidikan kesehatan di rumah sakit dengan sasaran pasien dan keluarga
b. Pendidikan kesehatan di sekolah dengan sasaran pelajar.
c. Pendidikan kesehatan di masyarakat atau tempat kerja dengan sasaran masyarakat atau pekerja.
3. Dimensi tingkat pelayanan kesehatan
a. Pendidikan kesehatan promosi kesehatan (Health Promotion), misal : peningkatan gizi, perbaikan sanitasi lingkungan, gaya hidup dan sebagainya.
b. Pendidikan kesehatan untuk perlindungan khusus (Specific Protection) misal : imunisasi
c. Pendidikan kesehatan untuk diagnosis dini dan pengobatan tepat (Early diagnostic and prompt treatment) misal : dengan pengobatan layak dan sempurna dapat menghindari dari resiko kecacatan.
d. Pendidikan kesehatan untuk rehabilitasi (Rehabilitation)misal : dengan memulihkan kondisi cacat melalui latihan-latihan tertentu.
C. Metode pendidikan kesehatan
1. Metode pendidikan Individual (perorangan)
Bentuk dari metode individual ada 2 (dua) bentuk :
a. Bimbingan dan penyuluhan (guidance and counseling), yaitu ;
1) Kontak antara klien dengan petugas lebih intensif
2) Setiap masalah yang dihadapi oleh klien dapat dikorek dan dibantu penyelesaiannya.
3) Akhirnya klien tersebut akan dengan sukarela dan berdasarkan kesadaran, penuh pengertian akan menerima perilaku tersebut (mengubah perilaku)
b. Interview (wawancara)
1) Merupakan bagian dari bimbingan dan penyuluhan
2) Menggali informasi mengapa ia tidak atau belum menerima perubahan, untuk mengetahui apakah perilaku yang sudah atau yang akan diadopsi itu mempunyai dasar pengertian dan kesadaran yang kuat, apabila belum maka perlu penyuluhan yang lebih mendalam lagi.
2. Metode pendidikan Kelompok
Metode pendidikan Kelompok harus memperhatikan apakah kelompok itu besar atau kecil, karena metodenya akan lain. Efektifitas metodenya pun akan tergantung pada besarnya sasaran pendidikan.
a. Kelompok besar
1) Ceramah ; metode yang cocok untuk sasaran yang berpendidikan tinggi maupun rendah.
2) Seminar ; hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan pendidikan menengah ke atas. Seminar adalah suatu penyajian (presentasi) dari satu ahli atau beberapa ahli tentang suatu topik yang dianggap penting dan biasanya dianggap hangat di masyarakat.
b. Kelompok kecil
1) Diskusi kelompok ;
Dibuat sedemikian rupa sehingga saling berhadapan, pimpinan diskusi/penyuluh duduk diantara peserta agar tidak ada kesan lebih tinggi, tiap kelompok punya kebebasan mengeluarkan pendapat, pimpinan diskusi memberikan pancingan, mengarahkan, dan mengatur sehingga diskusi berjalan hidup dan tak ada dominasi dari salah satu peserta.
2) Curah pendapat (Brain Storming) ;
Merupakan modifikasi diskusi kelompok, dimulai dengan memberikan satu masalah, kemudian peserta memberikan jawaban/tanggapan, tanggapan/jawaban tersebut ditampung dan ditulis dalam flipchart/papan tulis, sebelum semuanya mencurahkan pendapat tidak boleh ada komentar dari siapa pun, baru setelah semuanya mengemukaan pendapat, tiap anggota mengomentari, dan akhirnya terjadi diskusi.
3) Bola salju (Snow Balling)
Tiap orang dibagi menjadi pasangan-pasangan (1 pasang 2 orang). Kemudian dilontarkan suatu pertanyaan atau masalah, setelah lebih kurang 5 menit tiap 2 pasang bergabung menjadi satu. Mereka tetap mendiskusikan masalah tersebut, dan mencari kesimpulannya. Kemudian tiap 2 pasang yang sudah beranggotakan 4 orang ini bergabung lagi dengan pasangan lainnya dan demikian seterusnya akhirnya terjadi diskusi seluruh kelas.
4) Kelompok kecil-kecil (Buzz group)
Kelompok langsung dibagi menjadi kelompok kecil-kecil, kemudian dilontarkan suatu permasalahan sama/tidak sama dengan kelompok lain, dan masing-masing kelompok mendiskusikan masalah tersebut. Selanjutnya kesimpulan dari tiap kelompok tersebut dan dicari kesimpulannya.
5) Memainkan peranan (Role Play)
Beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai pemegang peranan tertentu untuk memainkan peranan tertentu, misalnya sebagai dokter puskesmas, sebagai perawat atau bidan, dll, sedangkan anggota lainnya sebagai pasien/anggota masyarakat. Mereka memperagakan bagaimana interaksi/komunikasi sehari-hari dalam melaksanakan tugas.
6) Permainan simulasi (Simulation Game)
Merupakan gambaran role play dan diskusi kelompok. Pesan-pesan disajikan dalam bentuk permainan seperti permainan monopoli. Cara memainkannya persis seperti bermain monopoli dengan menggunakan dadu, gaco (penunjuk arah), dan papan main. Beberapa orang menjadi pemain, dan sebagian lagi berperan sebagai nara sumber.
3. Metode pendidikan Massa
Pada umumnya bentuk pendekatan (cara) ini adalah tidak langsung. Biasanya menggunakan atau melalui media massa. Contoh :
a. Ceramah umum (public speaking)
Dilakukan pada acara tertentu, misalnya Hari Kesehatan Nasional, misalnya oleh menteri atau pejabat kesehatan lain.
b. Pidato-pidato diskusi tentang kesehatan melalui media elektronik baik TV maupun radio, pada hakikatnya adalah merupakan bentuk pendidikan kesehatan massa.
c. Simulasi, dialog antar pasien dengan dokter atau petugas kesehatan lainnya tentang suatu penyakit atau masalah kesehatan melalui TV atau radio adalah juga merupakan pendidikan kesehatan massa. Contoh : ”Praktek Dokter Herman Susilo” di Televisi.
d. Sinetron ”Dokter Sartika” di dalam acara TV juga merupakan bentuk pendekatan kesehatan massa. Sinetron Jejak sang elang di Indosiar hari Sabtu siang (th 2006)
e. Tulisan-tulisan di majalah/koran, baik dalam bentuk artikel maupun tanya jawab /konsultasi tentang kesehatan antara penyakit juga merupakan bentuk pendidikan kesehatan massa.
f. Bill Board, yang dipasang di pinggir jalan, spanduk poster dan sebagainya adalah juga bentuk pendidikan kesehatan massa. Contoh : Billboard ”Ayo ke Posyandu”. Andalah yang dapat mencegahnya (Pemberantasan Sarang Nyamuk).
D. Alat bantu dan media pendidikan kesehatan
1. Alat bantu (peraga)
a. Pengertian ;
Alat-alat yang digunakan oleh peserta didik dalam menyampaikan bahan pendidikan/pengajaran, sering disebut sebagai alat peraga. Elgar Dale membagi alat peraga tersebut menjadi 11 (sebelas) macam, dan sekaligus menggambarkan tingkat intensitas tiap-tiap alat bantu tersebut dalam suatu kerucut. Menempati dasar kerucut adalah benda asli yang mempunyai intensitas tertinggi disusul benda tiruan, sandiwara, demonstrasi, field trip/kunjungan lapangan, pameran, televisi, film, rekaman/radio, tulisan, kata-kata. Penyampaian bahan dengan kata-kata saja sangat kurang efektif/intensitasnya paling rendah.
b. Faedah alat bantu pendidikan
1) Menimbulkan minat sasaran pendidikan.
2) Mencapai sasaran yang lebih banyak.
3) Membantu mengatasi hambatan bahasa.
4) Merangsang sasaran pendidikan untuk melaksanakan pesan-pesan kesehatan.
5) Membantu sasaran pendidikan untuk belajar lebih banyak dan cepat.
6) Merangsang sasaran pendidikan untuk meneruskan pesan-pesan yang diterima kepada orang lain.
7) Mempermudah penyampaian bahan pendidikan/informasi oleh para pendidik/pelaku pendidikan.
8) Mempermudah penerimaan informasi oleh sasaran pendidikan.
Menurut penelitian ahli indra, yang paling banyak menyalurkan pengetahuan ke dalam otak adalah mata. Kurang lebih 75-87% pengetahuan manusia diperoleh/disalurkan melalui mata, sedangkan 13-25% lainnya tersalurkan melalui indra lain. Di sini dapat disimpulkan bahwa alat-alat visual lebih mempermudah cara penyampaian dan penerimaan informasi atau bahan pendidikan.
9) Mendorong keinginan orang untuk mengetahui, kemudian lebih mendalami, dan akhirnya memberikan pengertian yang lebih baik.
10) Membantu menegakkan pengertian yang diperoleh.
c. Macam-macam alat bantu pendidikan
1) Alat bantu lihat (visual aids) ;
- alat yang diproyeksikan : slide, film, film strip dan sebagainya.
- alat yang tidak diproyeksikan ; untuk dua dimensi misalnya gambar, peta, bagan ; untuk tiga dimensi misalnya bola dunia, boneka, dsb.
2) Alat bantu dengar (audio aids) ; piringan hitam, radio, pita suara, dsb.
3) Alat bantu lihat dengar (audio visual aids) ; televisi dan VCD.
d. Sasaran yang dicapai alat bantu pendidikan
1) Individu atau kelompok
2) Kategori-kategori sasaran seperti ; kelompok umur, pendidikan, pekerjaan, dsb.
3) Bahasa yang mereka gunakan
4) Adat istiadat serta kebiasaan
5) Minat dan perhatian
6) Pengetahuan dan pengalaman mereka tentang pesan yang akan diterima.
e. Merencanakan dan menggunakan alat peraga
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
1) Tujuan pendidikan, tujuan ini dapat untuk :
a) Mengubah pengetahuan / pengertian, pendapat dan konsep-konsep.
b) Mengubah sikap dan persepsi.
c) Menanamkan tingkah laku/kebiasaan yang baru.
2) Tujuan penggunaan alat peraga
a) Sebagai alat bantu dalam latihan / penataran/pendidikan.
b) Untuk menimbulkan perhatian terhadap sesuatu masalah.
c) Untuk mengingatkan sesuatu pesan / informasi.
d) Untuk menjelaskan fakta-fakta, prosedur, tindakan.
f. Persiapan penggunaan alat peraga
Semua alat peraga yang dibuat berguna sebagai alat bantu belajar dan tetap harus diingat bahwa alat ini dapat berfungsi mengajar dengan sendirinya. Kita harus mengembangkan ketrampilan dalam memilih, mengadakan alat peraga secara tepat sehingga mempunyai hasil yang maksimal.
Contoh : satu set flip chart tentang makanan sehat untuk bayi/anak-anak harus diperlihatkan satu persatu secara berurutan sambil menerangkan tiap-tiap gambar beserta pesannya. Kemudian diadakan pembahasan sesuai dengan kebutuhan pendengarnya agar terjadi komunikasi dua arah. Apabila kita tidak mempersiapkan diri dan hanya mempertunjukkan lembaran-lembaran flip chart satu demi satu tanpa menerangkan atau membahasnya maka penggunaan flip chart tersebut mungkin gagal.
g. Cara mengunakan alat peraga
Cara mempergunakan alat peraga sangat tergantung dengan alatnya. Menggunakan gambar sudah barang tentu lain dengan menggunakan film slide. Faktor sasaran pendidikan juga harus diperhatikan, masyarakat buta huruf akan berbeda dengan masyarakat berpendidikan. Lebih penting lagi, alat yang digunakan juga harus menarik, sehingga menimbulkan minat para pesertanya.
Ketika mempergunakan AVA, hendaknya memperhatikan :
1) Senyum adalah lebih baik, untuk mencari simpati.
2) Tunjukkan perhatian, bahwa hal yang akan dibicarakan/diperagakan itu, adalah penting.
3) Pandangan mata hendaknya ke seluruh pendengar, agar mereka tidak kehilangan kontrol dari pihak pendidik.
4) Nada suara hendaknya berubah-ubah, adalah agar pendengar tidak bosan dan tidak mengantuk.
5) Libatkan para peserta/pendengar, berikan kesempatan untuk memegang dan atau mencoba alat-alat tersebut.
6) Bila perlu berilah selingan humor, guna menghidupkan suasana dan sebagainya.
2. Media pendidikan kesehatan
Media pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah alat bantu pendidikan (audio visual aids/AVA). Disebut media pendidikan karena alat-alat tersebut merupakan alat saluran (channel) untuk menyampaikan kesehatan karena alat-alat tersebut digunakan untuk mempermudah penerimaan pesan-pesan kesehatan bagi masyarakat atau ”klien”. Berdasarkan fungsinya sebagai penyaluran pesan-pesan kesehatan (media), media ini dibagi menjadi 3 (tiga) : Cetak, elektronik, media papan (bill board)
1) Media cetak
1) Booklet : untuk menyampaikan pesan dalam bentuk buku, baik tulisan maupun gambar.
2) Leaflet : melalui lembar yang dilipat, isi pesan bisa gambar/tulisan atau keduanya.
3) Flyer (selebaran) ; seperti leaflet tetapi tidak dalam bentuk lipatan.
4) Flip chart (lembar Balik) ; pesan/informasi kesehatan dalam bentuk lembar balik. Biasanya dalam bentuk buku, dimana tiap lembar (halaman) berisi gambar peragaan dan di baliknya berisi kalimat sebagai pesan/informasi berkaitan dengan gambar tersebut.
5) Rubrik/tulisan-tulisan pada surat kabar atau majalah, mengenai bahasan suatu masalah kesehatan, atau hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan.
6) Poster ialah bentuk media cetak berisi pesan-pesan/informasi kesehatan, yang biasanya ditempel di tembok-tembok, di tempat-tempat umum, atau di kendaraan umum.
7) Foto, yang mengungkapkan informasi-informasi kesehatan.
2) Media elektronik
1) Televisi ; dapat dalam bentuk sinetron, sandiwara, forum diskusi/tanya jawab, pidato/ceramah, TV, Spot, quiz, atau cerdas cermat, dll.
2) Radio ; bisa dalam bentuk obrolan/tanya jawab, sandiwara radio, ceramah, radio spot, dll.
3) Video Compact Disc (VCD)
4) Slide : slide juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan/informasi kesehatan.
5) Film strip juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan kesehatan.
3) Media papan (bill board)
Papan/bill board yang dipasang di tempat-tempat umum dapat dipakai diisi dengan pesan-pesan atau informasi – informasi kesehatan. Media papan di sini juga mencakup pesan-pesan yang ditulis pada lembaran seng yang ditempel pada kendaraan umum (bus/taksi).
E. Perilaku kesehatan
1. Konsep perilaku
Skinner (1938) seorang ahli perilaku mengemukakan bahwa perilaku adalah merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan tanggapan (respons). Ia membagi respons menjadi 2 :
a. Respondent respons/reflexive respons, ialah respons yang ditimbulkan oleh rangsangan tertentu. Perangsangan semacam ini disebut elicting stimuli, karena menimbulkan respons-respons yang relatif tetap, misalnya : makanan lezat menimbulkan keluarnya air liur, cahaya yang kuat akan menimbulkan mata tertutup, dll. Respondent respons (respondent behavior) ini mencakup juga emosi respons atau emotional behavior. Emotional respons ini timbul karena hal yang kurang mengenakkan organisme yang bersangkutan. Misalnya menangis karena sedih/sakit, muka merah (tekanan darah meningkat karena marah). Sebaliknya hal-hal yang mengenakkan pun dapat menimbulkan perilaku emosional misalnya tertawa, berjingkat-jingkat karena senang, dll.
b. Operant Respons atau instrumental respons, adalah respons yang timbul dan berkembang diikuti oleh perangsangan tertentu. Perangsang semacam ini disebutreinforcing stimuli atau reinforcer, karena perangsangan-perangsangan tersebut memperkuat respons yang telah dilakukan oleh organisme. Oleh karena itu, perangsang yang demikian itu mengikuti atau memperkuat sesuatu perilaku tertentu yang telah dilakukan. Contoh : Apabila seorang anak belajar atau telah melakukan suatu perbuatan, kemudian memperoleh hadiah, maka ia akan menjadi lebih giat belajar atau akan lebih baik lagi melakukan perbuatan tersebut. Dengan kata lain, responsnya akan lebih intensif atau lebih kuat lagi.
2. Perilaku kesehatan
Yaitu suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan. Perilaku kesehatan mencakup 4 (empat) :
a. Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit, yaitu bagaimana manusia merespons, baik pasif (mengetahui, mempersepsi penyakit dan rasa sakit yang ada pada dirinya maupun di luar dirinya, maupun aktif (tindakan) yang dilakukan sehubungan dengan penyakit dan sakit tersebut. Perilaku terhadap sakit dan penyakit ini dengan sendirinya sesuai dengan tingkatan-tingkatan pencegahan penyakit, misalnya : perilaku pencegahan penyakit(health prevention behavior), adalah respons untuk melakukan pencegahan penyakit, misalnya : tidur dengan kelambu untuk mencegah gigitan nyamuk malaria, imunisasi,dll. Persepsi adalah sebagai pengalaman yang dihasilkan melalui panca indra.
b. Perilaku terhadap pelayanan kesehatan, baik pelayanan kesehatan tradisional maupun modern. Perilaku ini mencakup respons terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan, petugas kesehatan, dan obat-obatan, yang terwujud dalam pengetahuan, persepsi, sikap dan pengguanaan fasilitas, petugas dan obat-obatan.
c. Perilaku terhadap makanan (nutrition behavior), yakni respons seseorang terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan, meliputi pengetahuan, persepsi, sikap dan praktek kita terhadap makanan serta unsur-unsur yang terkandung di dalamnya/zat gizi, pengelolaan makanan, dll.
d. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan (environmental health behavior) adalah respons seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan lingkungan itu sendiri (dengan air bersih, pembuangan air kotor, dengan limbah, dengan rumah yang sehat, dengan pembersihan sarang-sarang nyamuk (vektor), dan sebagainya.
Becker (1979) mengajukan klasifikasi perilaku yang berhubungan dengan kesehatan (health behavior) sebagai berikut :
1) Perilaku kesehatan (health behavior), yaitu hal-hal yang berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya, termasuk juga tindakan-tindakan untuk mencegah penyakit, kebersihan perorangan, memilih makanan, sanitasi, dan sebagainya.
2) Perilaku sakit (illness behavior), yakni segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang individu yang merasakan sakit, untuk merasakan merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit, termasuk kemampuan atau pengetahuan individu untuk mengidentifikasi penyakit, penyebab penyakit, serta usaha-usaha mencegah penyakit tersebut.
3) Perilaku peran sakit (the sick role behavior), yakni segala tindakan atau kegiatan yang dilakuakan oleh individu yang sedang sakit untuk memperoleh kesembuhan. Perilaku ini disamping berpengaruh terhadap kesehatan/kesakitannya sendiri, juga berpengaruh terhadap orang lain, terutama anak-anak yang belum mempunyai kesadaran dan tanggung jawab terhadap kesehatannya.
3. Bentuk perilaku
Secara lebih operasional, perilaku dapat diartikan suatu respons organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut. Respons berbentuk 2 (dua) macam :
a. Bentuk pasif adalah respons internal, yaitu yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misal tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan. Misalnya ; seorang ibu tahu bahwa imunisasi itu mencegah suatu penyakit tertentu, meski ia tak membawa anaknya ke puskesmas, seseorang yang menganjurkan orang lain untuk ber-KB, meski ia tidak ikut KB. Dari contoh di atas ibu itu telah tahu guna imunisasi dan orang tersebut punya sikap positif mendukung KB, meski mereka sendiri belum melakukan secara konkret terhadap kedua hal tersebut. Oleh sebab itu perilaku mereka ini masih terselubung (covert behavior).
b. Bentuk aktif, yaitu perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung. Misalnya pada kedua contoh di atas, si ibu sudah membawa anaknya ke puskesmas untuk imunisasi dan orang pada kasus kedua sudah ikut KB dalam arti sudah menjadi akseptor KB. Oleh karena itu perilaku mereka ini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata, maka disebut ”overt behavior”.
4. Domain perilaku kesehatan
a. Menurut Bloom
1) Perilku kognitif (kesadaran, pengetahuan)
2) Afektif (emosi )
3) Psikomotor (gerakan, tindakan)
b. Menurut Ki Hajar Dewantara
1) Cipta (peri akal)
2) Rasa (peri rasa)
3) Karsa (peri tindak)
c. Ahli-ahli lain
1) Knowledge (pengetahuan), yaitu hasil ”tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan (rasa, lihat, dengar, raba, bau) terhadap suatu obyek tertentu.
2) Attitude (sikap), yaitu reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau obyek. Ahli lain menyatakan kesiapan/kesediaan seseorang untuk bertindak.
3) Practice (tindakan/praktik). Suatu sikap belum tentu otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain fasilitas. Sikap ibu yang positif terhadap imunisasi tersebut harus mendapat konfirmasi dari suaminya, dan ada fasilitas imunisasi yang mudah dicapai, agar ibu tersebut mengimunisasikan anaknya. Di samping faktor fasilitas juga diperlukan faktor dukungan(support) dari fihak lain, misal suami atau istri, orang tua atau mertua, sangat penting untuk mendukung praktek keluarga berencana.
d. Metode pendidikan untuk mengubah masing-masing domain perilaku
Merubah Pengetahuan
Merubah Sikap
Merubah Praktik
Ceramah
Diskusi Kelompok
Latihan sendiri
Kuliah
Tanya Jawab
Bengkel kerja
Presentasi
Role Playing
Demonstrasi
Wisata Karya
Pemutaran film
Eksperimen
Curah pendapat
Video

Seminar
Tape Recorder

Studi kasus
Simulasi

Tugas baca


Simposium


Panel


Konferensi


5. Tiga faktor pokok yang melatarbelakangi/mempengaruhi perilaku :
a. Faktor Predisposing, berupa pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, nilai, dll.
b. Faktor Enabling/pemungkin, berupa ketersediaan sumber-sumber/fasilitas, peraturan-peraturan.
c. Faktor Reinforcing/mendorong/memperkuat, berupa tokoh agama, tokoh masyarakat.
F. Perubahan perilaku dan proses belajar
1. Teori stimulus dan transformasi
Teori stimulus - respon kurang memperhitungkan faktor internal, dan transformasi yang telahmemperhitungkan faktor internal. Teori stimulus respon yang berpangkal pada psikologi asosiasi menyatakan bahwa apa yang terjadi pada diri subjek belajar adalah merupakan rahasia atau biasa dilihat sebagai kotak hitam ( black box). Belajar adalah mengambil tanggapan - tanggapan dan menghubungkan tanggapan - tanggapan dengan mengulang - ulang. Makin banyak diberi stimulus, makin memperkaya tanggapan pada subyek belajar.
Teori transformasi yang berlandaskan psikologi kognitif, menyatakan bahwa belajar adalah merupakan proses yang bersifat internal di mana setiap proses tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, antara lain metode pengajaran. Faktor eksternal itu misalnya persentuhan, repetisi/pengulangan, penguat. Faktor internal misalnya fakta, informasi, ketrampilan, intelektual, strategi.
2. Teori-teori belajar sosial (social learning)
a. Teori belajar sosial dan tiruan dari Millers dan Dollard
Ada 3 macam mekanisme tingkah laku tiruan;
1) Tingkah laku sama (same behavior).
Contoh : dua orang yang berbelanja di toko yang sama dan dengan barang yang sama.
2) Tingkah laku tergantung (macthed dependent behavior).
Contoh : kakak-beradik yang menunggu ibunya pulang dari pasar. Biasanya ibu mereka membawa coklat (ganjaran). Adiknya juga mengikuti. Adiknya yang semula hanya meniru tingkah laku kakaknya, di lain waktu meski kakaknya tak ada, ia akan lari menjemput ibunya yang baru pulang dari pasar.
3) Tingkah laku salinan (copying behavior)
Perbedaannya dengan tingkah laku bergantung adalah dalam tingkah laku bergantung ini si peniru hanya bertingkah laku terhadap isyarat yang diberikan oleh model pada saat itu saja. Sedangkan pada tingkah laku salinan, si peniru memperhatikan juga tingkah laku model di masa lalu dan masa yang akan datang. Tingkah laku model dalam kurun waktu relatif panjang ini akan dijadikan patokan si peniru untuk memperbaiki tingkah lakunya sendiri di masa yang akan datang, sehingga lebih mendekati tigkah laku model.
b. Teori belajar sosial dari Bandura dan Walter
1) Efek modeling (modelling effect), yaitu peniru melakukan tingkah laku baru melalui asosiasi sehingga sesuai dengan tingkah laku model.
2) Efek menghambat (inhibition) dan menghapus hambatan (disinhibition), dimana tingkah laku yang tidak sesuai dengan model dihambat timbulnya, sedangkan tingkah laku yang sesuai dengan tingkah laku model dihapuskan hambatannya sehingga timbul tingkah laku yang dapat menjadi nyata.
3) Efek kemudahan (facilitation effect), yaitu tingkah laku-tingkah laku yang sudah pernah dipelajari oleh peniru lebih mudah muncul kembali dengan mengamati tingkah laku model.